Serangan Boko Haram, Ratusan Perempuan Nigeria Hilang

Internasional – Sebanyak 100 perempuan hilang setelah kelompok ekstrimis Boko Haram menyerang sekolah mereka di timur laut Nigeria, Rabu (21/2/2018). Serangan ini kembali menimbulkan ketakutan seperti kasus penculikan serupa yang pernah dilakukan Boko Haram di sekolah di Chibok pada 2014 lalu.

Militan Islam ini menyerang sekolah menengah Sains milik pemerintah khusus perempuan di wilayah Dapchi, Yobe pada Senin (19/2) pagi. Awalnya, penduduk setempat mengatakan bahwa para gadis dan guru mereka melarikan diri.

Namun, kekhawatiran berkembang soal dimana keberadaan para siswi dan gurunya kini. Salah seorang siswi yang berhasil lolos mengatakan bahwa mereka kemungkinan dibawa oleh pejuang Boko Haram.

“Kami memiliki banyak alasan untuk mencurigai bahwa mereka dibawa oleh penyerang,” kata Aisha Yusuf Abdullahi (16) yang berhasil kembali ke rumahnya di pusat komersial Yobe, Potiskum.

Para orang tua dan wali yang cemas berkumpul di sekolah pada Rabu (21/2) untuk mencari kepastian. Pernyataan berbeda-beda diutarakan mengenai jumlah perempuan yang hilang.

Gubernur negara bagian Yobe Ibrahim Gaidam mengatakan “lebih dari 50” masih belum diketahui keberadaannya. Sementara komisaris polisi negara bagian tersebut mengatakan bahwa mereka masih hilang.

“(Sebanyak) 815 siswa kembali ke sekolah dan terlihat dari total 926 orang di sekolah,” kata komisaris polisi negara bagian Abdulmaliki Sumonu.

“Sisanya hilang, tidak ada kasus penculikan sejauh ini,” katanya kepada wartawan di ibukota negara bagian Yame, Damaturu.

Senjata penculikan

Kelompok ekstrimis Islam Boko Haram seringkali menggunakan penculikan sebagai salah satu senjata selama sembilan tahun pemberontakan mereka. Hal ini menimbulkan keresahan warga akan adanya penculikan massal lainnya.

Nama Boko Haram mencuat di dunia setelah mereka melakukan penculikan pada April 2014. Saat itu mereka menculik 276 anak perempuan dari dari sekolah mereka di Chibok, di negara bagian Borno.

Saat itu, 57 orang berhasil melarikan diri pada Mei tahun lalu. Sementara 107 lainnya juga melarikan diri atau dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan dengan pemerintah.

Abubakar Shehu, yang keponakannya termasuk di antara orang-orang yang hilang dari Dapchi, mengatakan bahwa pencarian di desa-desa sekitar tak menampakkan hasil.

“Kami memiliki ketakutan bahwa kita menghadapi skenario Chibok lain,” tuturnya. (eks)