Mentan : Food Estate Mampu Atasi Kemiskina di Sumba Tengah

SUMBA, beritaindonesianet – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan Program Food Estate di Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mampu mengatasi persoalan kemiskinan di daerah itu.
“Program Food Estate di Sumba Tengah sangat berhasil karena mampu mengatasi kemiskinan yang dialami warga di daerah itu,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo. Apalagi mengingat musim kemarau panjang yang sering terjadi di Sumba Tengah.
Food estate merupakan konsep menciptakan daerah sumber pangan/lumbung pangan baru yang terintegrasi. Program Food Estate merupakan upaya pemerintah mewujudkan ketahanan pangan nasional. Kebijakan dan program tersebut sebagai antisipasi menghadapi adanya krisis pangan yang merupakan warning dari Badan Pangan Dunia (FAO).
Untuk itulah, Mentan Syahrul Yasin Limpo mendorong kabupaten-kabupaten yang memiliki warga miskin terbanyak di NTT untuk dapat mengaplikasi Program Food Estate seperti dilakukan di Sumba Tengah dalam mengatasi kemiskinan.
“Kalau mau kaya atau tidak miskin yaitu bertani. Alam NTT sangat potensial untuk pengembangan usaha pertanian yang mampu membuat petani menjadi kaya dan keluar dari lilitan kemiskinan. Pemerintah akan siap membantu memberikan bantuan pendidikan bagi petani dan bantuan peralatan mesin pertanian untuk pengembangan usaha pertanian,” kata Yasin.
Pada kesempatan lain, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Prof.Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr saat berkunjung ke lokasi food estate Sumba Tengah (26/05) mengatakan bahwa Food estate yang menjadi program strategis nasional merupakan konsep pengembangan sentra produksi kawasan pangan yang berbasis korporasi dengan badan usaha tingkat petani yang mengelola usaha tani pangan mulai dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan dan terintegrasi,
“Program Food Estate atau lumbung pangan Nasional di Kabupaten Sumba Tengah menorehkan hasil memuaskan. Bahkan, hasil panen padi dan jagung meningkat signifikan yang tadinya sebelum ada program food estate jagung produktifitasnya hanya 2 ton per hektar namun setelah adanya program food estate produktifitas jagung menjadi 5 ton per hektar, sedangkan padi sebelum adanya food etate hanya 3 ton per hektar namun setelah ada food estate menjadi 5 ton per hektar dan bahkan kalau saja tidak ada hama belalang maka produktifitasnya bisa mencapai 6 Ton per hektar, “ kata Dedi.
Memang, dalam pelaksanaan program food estate di sumbah tengah tahun 2022, para petani mengalami kendala adanya serangan hama belalang Kumbara. “Kita harus segera mencari solusi pemecahan masalah hama ini,” kata Dedi.
Di Kabupaten Sumba Tengah, belalang kembara yang berasal dari padang rumput (savana) menjadi masalah bagi petani. Kondisi populasi di lapangan bervariasi dari nimfa sampai dengan dewasa. Bahkan, serangan hama ini mengakibatkan sebagian petani terancam gagal panen bila tidak segera dikendalikan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Tengah, Umbu K. Pari, S.TP yang mendampingi Kepala Badan Dalam Kunjungannya ke wilayah Food estate Sumba Tengah menegaskan bahwa Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Tengah beserta seluruh jajarannya siap berkolaborasi menangani belalang kembara dan mengamankan wilayahnya dari serbuan hama tersebut.

“Kami beserta seluruh jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Tengah siap untuk bersama-sama dengan Tim dari pusat Kementan dan masyarakat Sumba Tengah bergotong royong mengendalikan hama belalang kembara yang kini meledak serangannya. Kami siap mengamankan Sumba tengah dari serbuan belalang kembara”, ujar Umbu Pari. (hen)

beritain

Berita Indonesia Net adalah media online yang menyajikan berbagai informasi umum di seluruh dunia. Media ini diharapkan bisa menjadi jembatan informasi yang bermanfaat bagi seluruh pembaca, sesuai dengan mottonya "Bersama Anda, berbagi Informasi"